Kendo, Aikido, martial art related

Tuesday, May 21, 2019

Way of the Bow (Kyudo). Bagian 2

Yumi

Busur panah pada seni beladiri Kyudo dikenal dengan nama Yumi. Busur ini asimetris dan panjang. Berdasarkan catatan sejarah, penduduk Jepang sudah menggunakan busur asimetris sejak abad ketiga Sebelum Masehi. Pegangan berada pada posisi dua pertiga dari ujung atas busur sehingga kurva bagian atas dan bagian bawah busur berbeda. Konstruksi asimetris ini mampu menghasilkan busur dengan kekuatan tinggi yang mampu diregangkan sejauh setengah tinggi badan pemanah.

Meskipun saat ini sudah tersedia busur modern berbahan karbon komposit, sebagian pemanah lebih memilih Yumi tradisional yang terbuat dari bambu, kayu, dan kulit. Konstruksi dan bahan pembuat Yumi tidak berubah selama ratusan tahun. Sangat penting untuk memperlakukan Yumi dengan hormat. Melangkahi Yumi yang tergeletak di permukaan tanah atau lantai dianggap tindakan tidak sopan. Juga sangat penting untuk tidak menyentuh Yumi milik orang lain tanpa ijin.



Ya

Ya adalah anak panah pada seni beladiri Kyudo. Ada dua jenis Ya, yaitu jenis pria dan jenis perempuan yang dibedakan posisi bulu yang bertolak belakang. Anak panah jenis pria yang disebut Haya, akan berputar searah jarum jam saat ditembakkan sedangkan anak panah jenis perempuan atau Otoya, akan berputar berlawanan arah jarum jam saat ditembakkan. Umumnya pemanah akan menembakkan anak panah urut bergantian, satu Haya disusul satu Otoya dan seterusnya.

Kyudo juga melatih karakter praktisinya, tidak hanya berhubungan dengan panahan tapi lebih dari itu, bagaimana sikap hidup mereka sehari-hari. Konsep untuk secara total membenamkan diri pada satu tugas dapat membantu menjernihkan pikiran. Dengan kata lain, sebuah bentuk “meditasi melalui tindakan”, meminjam konsep Budhisme Zen.Hal ini bisa membantu memancarkan martabat kemanusiaan melampaui berbagai halangan yang menutupinya. Pada akhirnya, hal ini akan membawa pada kemajuan moral dan spiritual.



Salah satu manfaat utama Kyudo justru mampu membantu praktisinya untuk menghindari konflik dan menahan diri, satu sifat yang cukup jarang dari seni beladiri. Setiap praktisi Kyudo diharapkan mampu menjunjung sopan santun, belas kasih, dan moralitas sepanjang waktu, serta mampu tetap tenang dan bermartabat meskipun berada dalam situasi tertekan.


Prinsip seni beladiri Kyudo bisa dirangkum sebagai “kebenaran, kebaikan, dan keindahan”. Kebenaran berkaitan dengan menembakkan anak panah dengan pikiran yang bersih, kebaikan merujuk pada karakter individu, dan keindahan merujuk pada keanggunan serta kehalusan etika Kyudo. Bagi sebagian praktisi, Kyudo hampir seperti kegiatan religius sedangkan bagi praktisi lainnya, Kyudo  lebih seperti latihan ketrampilan dan latihan target. Meskipun demikian, filosofi dan elemen ritual Kyudo lah yang membedakannya dengan jenis panahan lainnya.