Kendo, Aikido, martial art related

Sunday, April 11, 2010

Aikido, Body Awareness dan Emosi ( Bag. I )

11:15 AM Posted by author No comments



Melihat judul di atas, kita mungkin akan bertanya-tanya. Apa sih yang dimaksud dengan ketiganya? Apa hubungan yang ada di antara ketiga hal tersebut? Tulisan ini bermaksud untuk mencoba memberikan, atau setidaknya mencoba untuk memberikan makna dan keterkaitan dari ketiga hal tersebut.

Pembaca buletin ini tentu tidak asing dengan aikido. Itu, lho, latihan yang kita lakukan setidaknya dua kali seminggu, di mana kita dengan senang dan gembira melempar-lempar (atau dilempar-lempar oleh) orang ke atas matras (atau puzzle, atau karet ban, atau bahkan tanpa alas sama sekali) dengan gerakan-gerakan aneh yang dilihat orang lain seperti sedang menari-nari. Aikido yang diciptakan oleh O-sensei Morihei Ueshiba di awal dan pertengahan abad ke duapuluh yang lalu (seperti sudah lama ya kesannya?) merupakan bela diri modern yang mengutamakan pertahanan diri total tanpa maksud adanya unsur serangan samasekali (walaupun itu nantinya akan tergantung dari persepsi masing-masing orang), dan merupakan salah satu bela diri yang populer dan digandrungi oleh sebagian masyarakat dunia (iya ya?). Sisanya teman-teman pembaca buletin Budo ini pasti sudah tahu dong apa itu Aikido, dan pastinya punya konsep sendiri-sendiri tentang Aikido, jadi tidak perlu dijelaskan lebih jauh lagi. Oke? Sip!

Kita pindah ke kata atau frase yang kedua, body awareness. Apa sih yang dimaksud dengan body awareness itu? Kalau melihat dari terjemahan langsungnya, kata body awareness kira-kira berarti “kesadaran tubuh” atau “kesadaran akan tubuh”. Simpel dan sederhana? Tentu saja, karena hal itu memang sederhana. Kesadaran akan tubuh. Kalau kita mau lebih masuk ke dalam konteks, maka body awareness (selanjutnya akan disingkat sebagai BA demi memanjakan kemalasan penulis, hehe) sebenarnya berarti lebih kepada “pemahaman, pengetahuan akan tubuh sendiri yang meliputi sensasi-sensasi yang dirasakan oleh individu yang bersangkutan – dalam hal ini ya kita-kita ini”. Kalau mau sumber yang lebih dipercaya, (karena uraian di atas adalah kesimpulan yang dibuat oleh penulis mengenai topik yang terkait), maka ada seorang pakar terapi yang bernama Paul Linden (2007) yang mengatakan bahwa:

Secara sederhana BA adalah ‘mengetahui dan menyadari proses yang berlangsung pada tubuh ketika seseorang melakukan suatu tindakan’. Sadar akan tubuh sendiri berarti:
Mengetahui, merasakan—
Ritme, bentuk, kualitas dari—
Nafas, otot, postur, gerakan—
Bagaimana kita mengarahkan intensi kita pada hal-hal di luar dan di dalam tubuh—
Bagaimana intensi tersebut mempengaruhi bentuk otot dan gerakan kita—
Bagaimana semua itu adalah respon terhadap apa yang terjadi di sekitar kita—
Bagaimana hal tersebut mempengaruhi bagaimana kita merespon terhadap apa yang terjadi pada kita dan bagaimana kita merespon apa yang ada di sekeliling kita.”

Satu lagi pakar terapi, tetapi lebih kepada penanganan PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) yang bernama Babette Rothschild (2000) menyatakan bahwa

Body Awareness merupakan suatu kesadaran subjektif seseorang tentang tubuhnya sendiri, tentang sensasi-sensasi yang dirasakan pada tubuhnya baik yang berasal dari dalam maupun luar tubuh

Terakhir kita pindah pada kata yang terakhir, yaitu Emosi. Pada bagian ini penulis akan memaparkan emosi dari sudut pandang psikologi, dengan alasan bahwa latar belakang penulis adalah disiplin ilmu ini. Jadi, kalau topik ini kemudian berkembang menjadi diskusi yang menggunakan sudut pandang ilmu lain, ya monggo. Itu tentu akan lebih memperkaya kita dari berbagai sisi. Sembari kita berharap ini tidak menjadi sekadar psycho babble saja.

Mengambil paparan mengenai emosi dari Hilgard’s Introduction of Psychology (1996), yang di mana buku tersebut mengacu pada Lazarus (1991), maka emosi mencakup beberapa komponen yang saling berinteraksi satu sama lain. Komponen pertama yang penting dan sering kali kita asosiasikan dengan emosi adalah “perasaan”. Kita sering berkata ”saya marah nih” atau ”gue lagi bete nih”, atau ”gue seneng banget!”. Ungkapan-ungkapan tersebut mengungkapkan perasaan yang secara subjektif dialami oleh seeorang. Dimaksud subjektif adalah hal itu berbeda-beda bagi tiap orang dan unik untuk tiap individu dan antar seseorang dengan orang lainnya. Akan tetapi bila kita melihat emosi, ada komponen lain yang melengkapi perasaan tersebut. Hal-hal tersebut meliputi perubahan fisiologis (perubahan kadar adrenalin yang menyebabkan detak jantung meningkat, konsentrasi aliran darah pada bagian tubuh tertentu, dan sebagainya); pikiran kita yang menilai hal-hal yang berkaitan dengan keadaan ketika kita merasakan emosi tersebut (apa penyebab kita marah, bahagia, atau sedih, penilaian kita secara rasional tentang bagaimana keadaan di sekeliling kita bisa menimbulkan perasaan-perasaan tersebut); ekspresi wajah; reaksi kita terhadap situasi yang membangkitkan emosi; terakhir adalah kecenderungan perilaku yang terbentuk oleh pengalaman kita dalam merespon keadaan yang membangkitkan emosi (ketika kita marah apakah kita hanya diam, atau memilih langsung memukul jatuh orang yang membuat kita marah, atau ketika kita takut apakah kita akan langsung lari menjauh atau berdiri tertegun dan tidak mampu berbuat apa-apa).

Semua faktor ini tidak ada yang berdiri sendiri-sendiri, tetapi saling mempengaruhi satu sama lain. Contohnya, ketika kita sedang mengantri dengan rapi dan manis di depan sebuah ATM menunggu giliran untuk mengambil uang, tiba-tiba ada seseorang yang memotong antrian terdepan dan menerobos masuk ke dalam ruangan ATM. Perasaan apa yang kira-kira akan kita alami? Marah, sedih, gembira? Sesuai dengan pengalaman kita mengenai kejadian tersebut, pikiran kita akan memproses keadaan yang kita jumpai. Kalau kita berpikir bahwa apa yang dilakukan orang tersebut melanggar norma-norma umum, mungkin kita akan marah. Ketika kita marah, proses fisiologis tubuh kita akan berubah (detak jantung meningkat misalnya). Ekspresi wajah kita akan juga berubah (memberengut, atau tiba-tiba sudut mulut kita menjadi berat dan turun ke bawah misalnya). Kalau kita sudah merasa kesal ketika kita menunggu di antrian tersebut, bayangkan seperti apa perasaan kita melihat pemandangan tersebut. Bagaimana kita menanggapi keadaan tersebut dalam bentuk perbuatan juga berbeda-beda. Apakah kita akan menegur orang yang bersangkutan? Apakah kita dengan marahnya akan masuk ke dalam ATM dan menyeret orang tersebut keluar dengan tidak mengatakan apa-apa? Atau diam saja dan makan hati sendirian? Tiap penilaian akan menghasilkan perasaan dan perilaku yang berbeda. Perilaku yang berbeda akan menghasilkan perasaan yang berbeda. Pengalaman yang kita alami sebelumnya dengan keadaan yang mirip atau sama akan mempengaruhi bagaimana kita mempersepsi keadaan. Bagaimana kita mengelola sensasi yang kita alami karena proses fisiologis akan mempengaruhi ekspresi wajah, perasaan dan kecenderungan berperilaku. Begitu seterusnya.
Emosi adalah hal yang penting dalam kehidupan kita. Kita hidup dalam dunia yang penuh warna-warni emosi yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari (pelangi kalee).

Lalu? Mungkin teman-teman sudah bertanya-tanya kemana arah tulisan ini menuju. Sekarang penulis akan mencoba pelan-pelan menuju ke arah sana. Semoga. Emosi, seperti di atas adalah faktor penting yang kita jumpai dalam keadaan sehari-hari. Kita digerakkan oleh emosi dan kita hidup diwarnai oleh kejadian-kejadian yang membangkitkan emosi-emosi tertentu. Beberapa membantu kita, dan beberapa merugikan kita. Teman-teman tentu pernah merasakan keadaan di mana teman-teman begitu terkuasai oleh perasaan-perasaan yang dialami. Kita sering begitu sedih sehingga kita tidak dapat berbuat apa-apa. Kita pernah begitu gembira, dan kemudian mengeluarkan pernyataan atau melakukan hal-hal yang menyinggung perasaan orang lain semata-mata karena euforia sesaat. Kita pernah begitu marahnya sehingga kita menyakiti orang yang kita anggap sebagai penyebab kita menjadi marah. Dan begitu seterusnya. Emosi terkadang menjadi tidak terkendali dan terkadang sulit bagi kita untuk mengendalikannya. Ini adalah masalah bagaimana kita bisa mengendalikan emosi kita sehingga ia tidak mengendalikan kita.

0 comments:

Post a Comment